Makalah Tentang Berlomba Dalam kebaikan
Yuk Kunjungi Toko Online Dari blog Ini
Disini kamu bisa berjualan apapun dari fashion pria wanita, pulsa, paket data, dan lain-lain. Keuntungan 1juta/bulan. Tunggu apalagi buruan daftar.
"Teruslah berbuat baik meski itu melelahkan, karena lelahnya akan hilang sedangkan pahalanya InsyaAllah akan terus ada"
Disini kamu bisa berjualan apapun dari fashion pria wanita, pulsa, paket data, dan lain-lain. Keuntungan 1juta/bulan. Tunggu apalagi buruan daftar.
"Teruslah berbuat baik meski itu melelahkan, karena lelahnya akan hilang sedangkan pahalanya InsyaAllah akan terus ada"
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Allah Ta’ala telah memberikan berbagai nikmat-Nya kepada kita semua yang
tentunya harus kita syukuri dengan cara: yang pertama, kita meyakini dalam hati
bahwa nikmat-nikmat tersebut datangnya dari Allah semata, yang merupakan
karunia-Nya yang diberikan kepada kita; yang kedua, mengucapkan rasa syukur
kepada-Nya melalui lisan-lisan kita dengan cara memuji-Nya; dan yang ketiga,
mempergunakannya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.
Di antara nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah harta dan
sehatnya anggota badan seperti lisan, tangan, kaki dan lainnya. Semua nikmat
itu harus kita gunakan untuk ketaatan kepada Allah dengan cara menginfakkan
harta yang kita miliki di jalan kebenaran, membiasakan lisan kita untuk
senantiasa berdzikir kepada-Nya dengan dzikir-dzikir yang telah diajarkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang shahih,
mengucapkan ucapan yang baik, beramar ma’ruf nahi munkar dan sebagainya.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka kami merumuskan beberapa
hal yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu :
1. Apa pengertian dari berkompetisi/berlomba-lomba?
2. Apa pengertian kebaikan?
3. Bagaimana penjelasan perintah Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah:148
serta surat
Al-Fathir: 32
4. Hikmah
berlomba dalam kebaikan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Berkompetisi
Kompetisi adalah kata kerja intransitive yang berarti tidak membutuhkan
objek sebagai korban kecuali ditambah dengan pasangan kata lain seperti against
(melawan), over (atas), atau with (dengan). Tambahan itu pilihan hidup dan bisa
disesuaikan dengan kepentingan keadaan menurut versi tertentu.
Menurut Deaux, Dane dan Wrightsman (1993), kompetisi adalah aktivitas
mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau
kelompok memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur
reward dalam suatu situasi.
Menurut Chaplin (1999), kompetisi adalah saling mengatasi dan berjuang
antara dua individu, atau antara beberapa kelompok untuk memperebutkan objek
yang sama.
2.2.Pengertian Kebaikan
Secara umum kebaikan adalah sesuatu yang
diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia
adalah baik dan benar, jika tingkah laku
tersebut menuju kesempuranan manusia. Kebaikan disebut nilai(value), apabila kebaikan itu bagi seseorang
menjadi kebaikan yang konkrit.Manusia menentukan tingkah lakunya untuk tujuan
dan memilih jalanyang ditempuh. Pertama kali yang timbul dalam jiwa
adalah tujuan itu, dalampelaksanaanya yang pertama diperlukan adalah
jalan-jalan itu. Jalan yangditempuh
mendapatkan nilai dari tujuan akhir.Manusia harus mempunyai tujuan akhir
untuk arah hidupnya.
Tujuan harus ada, supaya manusia
dapat menentukan tindakan pertama. Jika tidak,manusia akan hidup secara
serampangan. Tetapi bisa juga orang mengatakanhidup secara serampangan menjadi
tujuan hidupnya.Akan tetapi dengan begitu manusia tidak akan sampai kepada
kesempurnaan kebaikan selaras dengan derajat manusia.Untuk setiap manusia,
hanya terdapat satu tujuan akhir. Seluruh manusiamempunyai sifat serupa dalam
usaha hidupnya, yaitu menuntut kesempurnaan.Tujuan akhir selamanya merupakan
kebaikan tertinggi, baik manusia itu mencarinya dengan kesenangan
atau tidak.
Tingkah laku atau perbuatan menjadi baik
dalam arti akhlak, apabila membimbing manusia ke arah tujuan akhir, yaitu
dengan melakukan perbuatan yang membuatnya baik sebagai manusia
Berdasarkan norma susila, kebaikan atau
keburukan perbuatan manusiadapat dipandang melalui beberapa cara, yaitu :
a.
Objektif, keadaan
perseorangan tidak dipandang.
b. Subjektif, keadaan perseorangan
diperhitungkan.
c.
Batiniah, berasal
dari dalam perbuatan sendiri (kebatinan, intrinsic)
d. Lahiriah, berasal dari perintah
atau larangan Hukum Positif (ekstrinsik)Perbuatan yang sendirinya jahat tidak
dapat menjadi baik atau netralkarena alasan atau keadaan. Biarpun
mungkin taraf keburukannya dapat berubahsedikit
sedikit, orang tidak boleh berbuat jahat untuk mencapai kebaikan.Perbuatan yang
baik, tumbuh dalam kebaikannya, karena kebaikan alasandan keadaannya.
Suatu alasan atau keadaan yang jahat sekali, telah cukup untuk menjahatkan
perbuatan. Kalau kejahatan itu sedikit, maka kebaikan perbuatanhanya akan dikurangi.Perbuatan netral memproleh
kesusilaannya, karena alasan dan keadaannya.Jika ada beberapa keadaan, baik dan
jahat, sedang perbuatan itu sendiri ada baik atau netral dipergunakan.
2.3.Berkompetisi dalam Kebaikan Sesuai Perintah Allah SWT dalam Surat
Al-Baqarah:148 dan Hadist Nabi
Berlomba dalam menggapai dunia bukan hal yang asing lagi di tengah kita
untuk masuk perguruan tinggi terkemuka kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana
setiap orang ingin dapat yang terdepan. Cita-citanya bagaimana bisa mendapat
penghidupan yang bahagia kelak,namun amat jarang kita perhatikan orang-orang
berlomba dalam hal akhirat.
Sedikit orang yang mendapat rahmat Allah yang mungkin sadar akan hal ini.
Cobalah saja perhatikan bagaimana orang-orang lebih senang menghafal berbagai
tembangan ‘nyanyian’ daripada menghafalkan Al Qur’an Al Karim. Bahkan lebih
senang menjadi nomor satu dalam hal tembangan, lagu apa saja yang dihafal,
daripada menjadi nomor satu dalam menghafalkan Kalamullah.
Di dalam shalat jama’ah pun, kita dapat saksikan sendiri bagaimana ada yang
sampai menyerahkan shaf terdepan pada orang lain. “Silahkan, Bapak
saja yang di depan”, ujar seseorang. Akhirat diberikan pada orang lain. Padahal
shaf terdepan adalah shaf utama dibanding yang di belakangnya bagi kaum pria.
Demikianlah karena tidak paham dalam hal menjadi nomor satu dalam kebaikan
akhirat sehingga rela jadi yang terbelakang.
Ayat yang patut direnungkan bersama pada kesempatan kali ini adalah firman
Allah Ta’ala dalam Surat Al-Baqarah 148 :
وَلِكُلٍّ وِجْحَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَا سْتَبِقُوْا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُو نُوْاْ يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيْعًا إِنَّ اللَّهَ عَلىَ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ (148)
“Dan bagi
tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Q.S Al- Baqarah : 148 )”.[1]
Isi kandungan ayat diatas adalah :
Setiap umat mempunyai kiblat, umat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menghadap
ke ka’bah, Bani Israil dan orang-orang Yahudi menghadap ke Baitul Maqdis, dan
Allah telah memerintahkan supaya kaum muslimin menghadap ka’bah dalam shalat.
Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin bersatu, bekerja dengan giat, beramal,
bertobat dan berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan dan tidak menjadi fitnah
atau cemooh dari orang-orang yang ingkar sebagai penghambat..
Allah akan menghimpun seluruh manusia untuk dihitung dan diberi balasan
atas segala amal perbuatannya. Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan tidak
ada yang dapat melemahkannya untuk mengumpulkan seluruh manusia pada hari
pembalasan. Kemuliaan manusia bisa kita pahami dari iman dan amal saleh atau
kebaikannya dalam bersikap dan bertingkah laku di mana pun dia berada dan dalam
keadaan bagaimanapun situasi dan kondisinya. Itu sebabnya semakin banyak perbuatan
baik yg dilakukannya maka akan semakin mulia harkat dan martabatnya di hadapan
Allah SWT.
Memahami ilmu kebaikan bagi seorang muslim tiap amal yang dilakukannya
tentu harus didasari pada ilmu semakin banyak ilmu yg dimiliki dipahami dan
dikuasai insya Allah akan makin banyak amal yang bisa dilakukannya sedangkan
makin sedikit pemahaman atau ilmu seseorang akan semakin sedikit juga amal yg
bisa dilakukannya apalagi belum tentu orang yg mempunyai ilmu secara otomatis
bisa mengamalkannya. Ini berarti seseorang akan semakin terangsang untuk
melakukan kebaikan manakala dia memahami ilmu tentang kebaikan itu.
Paling tidak ada dua kriteria tentang kebaikan yang diterima oleh Allah
SWT. Pertama ikhlas dalam beramal yakni,Pertama ,melakukan suatu
amal dengan niat semata-mata ikhlas krna Allah SWT atau tidak riya dalam arti
mengharap pujian dari selain Allah SWT. Karena itu dalam hadis yg terkenal
Rasulullah saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya amal itu sangat
tergantung pada niatnya”.
Kedua melakukan kebaikan itu
secara benar hal ini krna meskipun niat seseorang sudah baik bila dalam
melakukan amal dengan cara yg tidak baik maka hal itu tetap tidak bisa diterima
oleh Allah SWT karen ini termasuk bagian dari mencari selain Islam sebagai
agama hidupnya yang jelas-jelas akan ditolak Allah SWT sebagaimana yg sudah
disebutkan pada QS 2:148 di atas.
Akhirnya menjadi jelas bagi kita bahwa hidup ini harus kita jalani untuk
mengabdi kepada Allah SWT yang terwujud salah satunya dalam bentuk melakukan
kebaikan dan masing-masing orang harus berusaha melakukan kebaikan sebanyak
mungkin sebagai bentuk kongkret dari perwujudan kehidupan yg baik di dunia dan
ini pula yang akan menjadi bekal bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di
akhirat kelak.
Surat Al Fathir : 32
ثُمَّأَوْرَثْنَا الْكِتَابَ
الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ
مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِبِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ
هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya :Kemudian
Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara
hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri
dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang
lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah
karunia yang amat besar.(QS. Al-Fathir:32)
Allah swt mewariskan kitab ( Al
Quran ) kepada hamba hambanya yang terpilih untuk diamalkan dan dikerjakan apa
yang diperintahkan dan dilarang dalam kitab tersebut. Dalam kenyataanya manusia
memiliki berbagai ragam bentuk aktifitas untuk menerima dan mewarisi kitab yang
telah Allah wariskan. Ada diantara mereka menanggapi kitab Allah dengan sungguh
sungguh dan mengerjakanya dengan amal amal perbuatan baik karena mendapatkan
ridho dan izin Allah, adapula yang menerima dengan seenaknya tanpa mau
mengerjakan apalagi mentaati isi dan ajaran kitab Allah tersebut sehingga apa
yang dilakukanya sesungguhnya seperti menganiaya diri sendiri. Karena manusia
yang tidak mau beramal baik sesuai dengan kitab Allah sesungguhnya amal
perbuatan itu akan kembali pada dirinya sendiri. Dan yang lebih banyak manusia
itu ada di pertengahan yang terkadang taat namun dilain waktu manusia itu
melanggar.
Kitab Allah ( Al-Quran ) merupakan
satu pedoman hidup manusia baik untuk kebahagiaan di dunia maupun kebahagiaan
hidup di akhirat. Agar manusia mampu meraih kedua hal tersebut maka manusia
dituntut untuk mampu memahami, membaca, dan mengamalkan apa yang terkandung
dalam kitab Allah tersebut. Orang Islam mempunyai kewajiban untuk mampu dan
dapat membaca Al-quran dengan baik dan benar, memahami arti dan maknanya, serta
mengamalkan apa yang ada didalamnya.
Sayid Sabiq dalam kitabnya telah membagi akhlak manusia kedalam tiga tingkatan :
1.Nafsu Amarah, ialah nafsu manusia yang tingkatanya paling rendah dan sangat hina karena senantiasa mengutamakan desakan dan bisikan hawa nafsu yang merupakan godaan syaitan.
2.Nafsu Lawwammah, ialah nafsu yang senantiasa menjaga amal manusia untuk berbuat salih dan berhati hati serta instropeksi terhadap kesalahan kesalahan apabila terperosok kedalam kemungkaran.
3Nafsu Muthmainah, ialah akhlak manusia yang paling tinggi derajatnya karena memiliki ruhani dan jiwa yang tenang, suci, dalam keadaan selalu melakukan kebaikan kebaikan dan beramal shalih.
Sayid Sabiq dalam kitabnya telah membagi akhlak manusia kedalam tiga tingkatan :
1.Nafsu Amarah, ialah nafsu manusia yang tingkatanya paling rendah dan sangat hina karena senantiasa mengutamakan desakan dan bisikan hawa nafsu yang merupakan godaan syaitan.
2.Nafsu Lawwammah, ialah nafsu yang senantiasa menjaga amal manusia untuk berbuat salih dan berhati hati serta instropeksi terhadap kesalahan kesalahan apabila terperosok kedalam kemungkaran.
3Nafsu Muthmainah, ialah akhlak manusia yang paling tinggi derajatnya karena memiliki ruhani dan jiwa yang tenang, suci, dalam keadaan selalu melakukan kebaikan kebaikan dan beramal shalih.
Hikmah berkopetisi/berlomba dalam kebaikan: Berlomba lomba dalam berbuat kebaikan berarti
menaati dan patuh untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya
dengan semangat yang tinggi, Allah akan membalas orang yang beriman, berbuat
baik dan suka menolong dengan surga dan berada di dalamnya kekal selama
lamanya, Lebih dekat kpd allah swt,
jauh dari perbuatan sirik
jauh dari perbuatan sirik
BAB II
PENUTUP
1. Kesimpulan
Suatu nikmat
apabila telah disyukuri, Tuhan berjanji akan menambahnya lagi. Dan janganlah
sampai berbudi rendah, tidak mengingat terima kasih. Tidak syukur atas nikmat
adalah suatu kekufuran. Kalau nikmat yang telah dianugerahkan Allah tidak
disyukuri, mudah saja bagi Allah mencabutnya kembali, dan menghidupkan kita di
dalam gelap.
Meskipun
Rasul sudah diutus, ayat sudah diberikan, al-Qura'n sudah diwahyukan, hikmat
sudah diajarkan dan kiblat sudah terang pula, semuanya tidak akan ada artinya
kalau tidak ingat kepada Allah (zikir) dan bersyukur. Orang yang tidak
mensyukuri nikmat Tuhan yang telah ada, tidaklah akan rnerasai nikmat Islam
itu. Maka zikir dan syukur, adalah dua pegangan teguh yang banyak diterangkan
di dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w.
Dari
penjabaran diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa manusia tak lepas dari
sebuah dosa. Dimanapun kita berada pasti kita sering melakukan dosa setiap harinya
,entah kita sadari atau tidak.Apabila kita ingin berbuat baik kepada orang
lain.Terkadang kita salah mengerti dengan keadaan orang tersebut sehingga
terjadi salah paham diantara sesama.
Dimanapun
kaki ini menginjak dan dimanapun nafas ini masih menghembus, jalankanlah
perintah berlomba-lombalah dalam kebaikan sesuai dengan maksud yang ada.
Berikanlah yang terbaik untuk sesama dan pahami bagaimana keadaannya terlebih
dahulu agar kita terhindar dari rasa kesalahpahaman antar sesama serta tidak ada
yang dirugikan atas semua tindakan baik kita.
2. Saran
Berbuat kebaikan jelas diperintahkan oleh Allah SWT. Perintah untuk
berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan, dapat kita temukan dalam Al-Quran maupun
Al-Hadist.
3.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ki-tapunya.blogspot.com/2015/08/terjemahan-isi-kandungan-quran-surat-fathir-ayat-32.html
https://ad3ka160495.wordpress.com/2010/08/12/surah-al-baqarah2-148-surah-fatir-3532/
http://warnet178meulaboh.blogspot.com/2014/02/makalah-berkompetisi-dalam-kebaikan.html
Arif Sobaruddin. 2012. Pengertian kompetisi. (online). Diakses
Pada tanggal 25 Februari 2014 pada pukul 09.27 WIB.
http://www.bisosial.com/2012/11/pengertian-konpetisi.html
.png)




0 comments: